Monday, September 25, 2006

NTT Rusuh, 205 Napi Kabur

Sabtu, 23 September 2006

KUPANG – Eksekusi terhadap tiga terpidana mati kasus kerusuhan Poso Tibo cs memantik gejolak di sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi Tengah (Sulteng). Selain di Kupang, protes atas eksekusi terhadap Fabianus Tibo, 60; Domingus Da Silva, 39; dan Marinus Riwu, 48; juga terjadi di Atambua, Kabupaten Belu, dan Kabupaten Maumere, NTT, serta Poso, Sulteng.

Dalam aksi di Atambua kemarin, ribuan pendukung Tibo cs membobol Rumah Tahanan (Rutan) Atambua. Akibatnya, 205 tahanan dan narapidana kabur. Hingga pukul 19.00 WIB tadi malam, baru 32 tahanan yang tertangkap dan menyerahkan diri.

''Tahanan kabur setelah massa merusak dan membobol pintu utama. Bahkan, sebagian ruang penjara dibakar habis," kata Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Hukum dan HAM Provinsi NTT Soetomo Rahardjo kepada wartawan di Kupang kemarin.

Memanasnya situasi keamanan di NTT –kampung halaman Tibo, Da Silva, dan Marinus Riwu– sudah terasa sejak Kamis (21/9) malam. Ratusan warga Kupang turun ke jalan menjelang pelaksanaan eksekusi Tibo cs. Mereka tidak hanya menggelar renungan malam dan doa bersama, tetapi juga melakukan aksi bakar ban-ban bekas di tengah jalan raya. Aksi itu bisa diatasi petugas dari Polres Kupang sehingga tidak sampai berkembang menjadi anarkis.

Situasi keamanan di Kupang bisa dikendalikan. Namun, tidak demikian halnya di Atambua, Kabupaten Belu. Begitu tahu Tibo cs telah dieksekusi, sejak pagi massa dari berbagai pelosok di Belu turun ke Atambua. Aksi diawali pemblokadean hampir seluruh persimpangan jalan dengan batu, kayu, bahkan kawat duri yang disertai dengan pembakaran ban mobil.

Pemblokadean jalan itu dilanjutkan dengan pembakaran rumah dinas kepala Kejaksaan Negeri Atambua serta perusakan kaca pintu dan jendela di sejumlah instansi pemerintahan, gedung DPRD, rumah penduduk, serta tempat usaha warga.

Polisi sudah berusaha meredam aksi massa dengan mengeluarkan tembakan peringatan. Namun, massa malah semakin beringas. Bahkan, mereka terus melancarkan aksi hingga akhirnya membobol dan membakar Rutan Atambua.

Aksi massa bisa diredam setelah Kapolda NTT Brigjen Pol R.B. Sadarun dan Uskup Atambua Mgr Anton Pain Ratu turun langsung menenangkan massa. Di hadapan massa, uskup meminta masyarakat di daerah itu berusaha menenangkan diri dan menghindari upaya provokator untuk terus mengganggu keamanan di Kabupaten Belu.

Hingga tadi malam, situasi keamanan di Atambua dan wilayah lain di Kabupaten Belu sudah relatif stabil. Kini polisi dan TNI makin intensif mengejar sekitar 173 tahanan yang masih kabur.

''Kami meminta para tahanan menyerahkan diri secara sukarela," kata Komandan Kodim 1605 Belu Letkol Julius Wijayanto kepada wartawan kemarin.

Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin menggelar konferensi pers pukul 13.30 WIB kemarin menjelaskan bobolnya Rutan Atambua.

"Arsip data napi bisa diselamatkan dan tidak dirusak," ungkap Hamid. Keberadaan arsip tersebut tentu saja akan memudahkan pencarian napi saat situasi sudah kondusif nanti.

Menurut Hamid, saat insiden terjadi sekitar pukul 08.30 Wita, jumlah petugas memang tidak seimbang dengan jumlah napi. Pagi itu, hanya ada empat orang petugas jaga yang mengawasi 220 napi, ditambah beberapa orang staf administrasi. Personel yang sangat terbatas itu tentu saja tidak dapat mencegah ribuan orang yang datang dan membobol lapas. "Yang penting, dalam menit-menit terakhir, petugas kami sudah menyelamatkan diri meski ada yang terluka," katanya. (ein/ogi)

No comments: