Monday, September 25, 2006

Tetap Tolak Vonis, Tibo Cs Siap Dieksekusi

Kamis, 21 september 2006

Polisi berjaga-jaga di Lembaga Pemasyarakatan Palu, Sulawesi Tengah,
Rabu (20/9), menjelang eksekusi terpidana mati Fabianus Tibo dan
kawan-kawan yang dijadwalkan berlangsung Jumat (22/9) dini hari.
Ribuan polisi dikerahkan ke Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah itu
untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan berkaitan dengan rencana
eksekusi tersebut. [AP/Achmad Ibrahim]

[PALU] Tiga terpidana mati kasus Poso, yaitu Fabianus Tibo, Dominggus
da Silva dan Marinus Riwu menyatakan siap dieksekusi mati oleh regu
tembak, yang rencananya akan dilakukan Jumat (22/9) dini hari. Meski
demikian, ketiganya tetap menyatakan tidak bersalah dan menolak vonis
mati.

Kesiapan ketiganya menghadapi ajal itu disampaikan oleh Pastor Jimmy
Tumbelaka, Kamis (21/9). Sehari sebelumnya Pastor Jimmy yang menjadi
pendamping rohani ketiga terpidana mati, menerima pesan terakhir dari
Tibo Cs.

Menjelang pelaksanaan eksekusi mati, ketiga terpidana mati juga
menerima sakramen dalam tradisi Gereja Katolik, yakni sakramen
pertobatan, ekaristi dan minyak suci. Penerimaan tiga sakramen itu
dilayani Pastor Paroki Santa Theresia Poso, Jimmy Tumbelaka.

Sakramen pertobatan dan ekaristi telah diterima ketiganya Kamis (21/9)
pagi, di ruang isolasi khusus terpidana mati Lapas Kelas IIA Palu.
Sedangkan sakramen minyak suci baru akan dilaksanakan 10 menit sebelum
eksekusi oleh regu tembak yang direncanakan Jumat (22/9) dini hari.
Dalam sakramen minyak suci, kedua telapak tangan dan dahi ketiga
terpidana akan diolesi minyak, sebagai bekal menghadapi kematian dan
tanda penyerahan jiwa kepada Tuhan.

Ikut mendampingi dalam prosesi itu Robertus Tibo (29), anak Fa-bianus
Tibo. Robertus sejak Senin lalu mengunjungi ayahnya setiap hari di
ruang isolasi Lapas Palu.

"Saat ini tak ada lagi tangis dan air mata. Air mata kami sudah
kering. Terlalu lama kami berjuang pergi ke mana-mana mencari keadilan
untuk ayah serta Om Dominggus dan Marinus, tapi kami tidak pernah
menemukannya. Kami sudah pasrah sepenuhnya pada kehendak Tuhan," ucap
Robertus.

Menurut rencana, eksekusi ketiga terpidana akan dilaksanakan Jumat
dini hari. Tidak diketahui persis jam berapa waktu eksekusi.

Informasi yang berhasil dikumpulkan Pembaruan menyebutkan, seusai
menerima pelayanan rohani pada Kamis pagi, ketiga terpidana
kemungkinan besar dipindahkan dari Lapas Palu ke suatu tempat yang
sangat dirahasiakan. Setelah itu pada Kamis tengah malam mereka dibawa
ke tempat eksekusi.

Sumber di Polda Sulteng menyebutkan, seusai dieksekusi, tiga jenazah
terpidana kemungkinan langsung diterbangkan dengan helikopter. Jenazah
Tibo dan Marinus ke Desa Beteleme Tua dan Malores, Morowali, sedangkan
jenazah Dominggus diterbangkan ke Flores, Nusa Tenggara Timur.

Namun Pastor Jimmy mengingatkan aparat penegak hukum tidak mengabaikan
empat pesan terakhir Tibo Cs. "Salah satu permintaan terakhir ketiga
terpidana adalah setelah dieksekusi jenazah mereka harus disemayamkan
di Gereja Katolik Santa Maria, Palu, dan didoakan oleh keluarga dan
gereja. Saya mau katakan, wewenang negara hanya sampai pada
mengeksekusi mati mereka. Tapi jenazah para korban dari ketidakadilan
itu, setelah dieksekusi, sudah menjadi milik keluarga," tandasnya
meng-ingatkan.

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mengirim surat ketiga
kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar menangguhkan hukuman
mati terhadap Fabianus Tibo Cs. Pertimbangannya, saat ini berdasarkan
saluran komunikasi yang dihimpun PGI jika pemerintah memaksakan
mengeksekusi, kepercayaan masya- rakat terhadap pemerintah dan bangun
kerukunan umat beragama akan menjadi rusak.

"Di samping itu, masih ada 16 saksi yang harus dimintai keterangan
mengenai kesalahan yang dilakukan oleh Fabianus Tibo," kata Wakil
Sekretaris Umum PGI Pendeta Weinata Sairin.


Siaga Satu

Sementara itu, Kapolda NTT Brigjen Polisi RB Sadarum mengatakan,
wilayahnya dalam kondisi siaga satu, menjelang eksekusi tiga terpidana
mati kasus Poso. Khusus di Kota Maumere, Flores, disiagakan 950
personel TNI dan Polri.

Terkait hal itu, Wakil Gubernur NTT Frans Lebu Raya dalam imbauan
tertulisnya, Kamis (21/9) pagi, mengimbau kepada para bupati, ketua
DPRD dan seluruh komponen masyarakat untuk menghargai dan menghormati
proses hukum terhadap kasus Tibo Cs.

Secara terpisah Kapolres Sikka Ajun Komisaris Besar Polisi Endang
Syafruddin ketika dihubungi di Maumere, pagi tadi, mengatakan,
meskipun kondisi keamanan di Maumere kondusif, namun tetap dinyatakan
siaga satu, sesuai perintah Kapolda. [128/120/E-5]

Fabianus Tibo:

"Kami tidak takut dengan eksekusi ini. Kami siap dieksekusi meski kami
menolak eksekusi ini. Kami tidak bersalah. Dengan keluarga, kami
merasa sangat berat. Kami telah menelantarkan mereka selama ini. Kami
hanya mampu berdoa untuk mereka agar memaafkan kami. Terima kasih
untuk semua pihak yang bantu keluarga selama ini. Terima kasih pula
untuk semua orang yang mengusahakan supaya kebenaran dan keadilan
diungkap dan ditegakkan. Kami merasa bahwa Tuhan memberikan yang
terbaik selama ini."


Marinus Riwu:

"Untuk eksekusi ini saya tidak takut. Saya tidak bersalah, tapi saya
siap menghadapi kematian ini. Saya yakin di surga akan berjumpa suatu
saat dengan istri dan anak.

Saya sungguh merasa kuat. Sudah enam tahun lebih saya berdoa di sini.
Saya selalu bertanya apa yang sebenarnya yang dituduhkan kepada kami?
Ini hanya upaya melindungi 16 nama. Tangan saya bersih dari darah."


Dominggus da Silva:

"Saya cuma numpang lewat di Jamur Jaya (Kabupaten Morowali), tapi
akhirnya saya harus ada di sini. Hidup dan mati, Tuhan yang
menentukan, maka saya tidak takut menghadapi masalah ini.

Keadilan tidak berpihak kepada kami, masyarakat kecil. Kurang lebih
tujuh tahun kami ungkapkan kebenaran, tapi selalu dibungkam aparat
penegak hukum. Walaupun saya sudah mati, saya tetap tidak terima
eksekusi mati itu."

No comments: